Pembahasan Lengkap Tentang Anatomi & Fisiologi Sistem Endokrin Manusia

 FISIOLOGI ENDOKRIN


Sistem Endokrin Manusia

Sistem endokrin bersama Sistem saraf  mempunyai fungsi  pengatur/Regulasi tubuh baik pada tingkat sel sampai tingkat system organ tubuh. Jika digabung menjadi system maka disebut system Neuroendokrin
Sistem Endokrin mempunyai sifat kerja  lambat/perlahan untuk metabolisme, tumbuh kembang, reproduksi dan homeostasis tubuh melalui pelepasan hormone oleh sel kelenjar endokrin. Sedangkan Sistim saraf  mempunyai sifat kerja aktifitas tubuh yang Cepat / segera seperti ; berlari, makan, dan sebagainya melalui pelepasan neurotransmitter.

Letak Kelenjar-Kelenjar Endokrin di Tubuh Manusia

Gambar Letak Kelenjar-Kelenjar Endokrin di Tubuh Manusia


Klasifikasi  Hormon

Berdasarkan komponen penyusunnya dibagi menjadi 3 kelompok :      

  1. Steroid ( berasal dari cholesterol ) : estrogen, progesteron, testosteron, cortisol, aldosteron.
  2. Turunan asam amino tyrosin : tiroksin,triiodotyronin, epinefrin,norepinefrin.
  3. Protein/peptide : hormon hipofise anterior dan posterior, insulin, glukagon, PTH,  dan lain sebagainya diluar kedua kelompok hormone di atas.

Fungsi Hormon

  • Reproduksi
    • hormon androgen
    • estrogen
    • progesterone ( Kelenjar Gonad) 
    • hormone LH
    • FSH
    • Prolaktin ( kelenjar pituitary anterior ).
  • Pertumbuhan dan perkembangan : 
    • Interaksi hormon peptide 
    • katekolamin 
    • steroid dan tiroid  bersama factor-faktor pertumbuhan ( Growth factor) seperti : 
      • insulin-like growth factor( IGF )
      • neural-like growth factor( NGF ) 
      • epidermal-like growth factor( EGF )
  •  Homeostasis ( internal environment ) : 
    • Hormon yang mengatur  volume cairan ekstrasel dan tekanan darah 
      • ADH
      • Aldosteron  
      • Renin-Angiotnsin  
    • Hormon yang mengatur komposisi elektrolit cairan tubuh 
      • PTH 
      • calcitonin 
      • calsitriol  
    • Suhu tubuh, massa tulang, otot dan jaringan lemak , yang semuanya untuk bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ekstrim.
  • Pengaturan pengadaan energi : mengubah kalori makanan menjadi energi, menyimpan dan mobilisasi energi bila diperlukan, seperti hormon insulin dan glukagon, hormon tiroid dan estrogen.

Mekanisme Pengaturan Hormon ( Feedback Mechanism )

    Ada 2 jenis Feedback Mechanism , yaitu :

Feedback  Negatif Mechanism    

Feedback  Negatif Mechanism merupakan mekanisme pengaturan hormon umumnya, berupa suatu hormon akan menghambat produksi dan sekresinya sendiri baik pada tingkat hipothalamus maupun pituitari anterior secara langsung , akibat Kelenjar endokrin yang secara alami mempunyai tendensi untuk over sekresi hormonnya.

Sehingga hormon akan banyak diproduksi untuk merangsang organ target secara berlebihan yang akan menimbulkan keracunan ( toksisitas), sehingga diperlukan mekanisme regulasi untuk menekan overproduksi kelenjar endokrin . Seperti : Hipertirotoksikosis ( hipersekresi hormon tiroid) dan metode KB    ( penyuntikkan estrogen dan progesteron ).

Feedback  Positif Mechanism 

Feedback  Positif Mechanism merupakan mekanisme pengaturan hormon yang jarang terjadi dalam keadaan fisiologis .

Misalnya  hubungan antara LH dengan estradiol, dimana selama siklus haid peningkatan konsentrasi  LH plasma akan merangsang sekresi estradiol oleh ovarium , dimana sesudah mencapai konsentrasi tertentu estradiol akan merangsang sekresi LH  sampai pada  puncaknya, kemudian akan terjadi penurunan konsentrasi LH secara perlahan-lahan.


Reseptor 

Hormon bergantung pada adanya Reseptor  untuk bisa terikat dan menjalankan fungsinya pada sel target. Dimana masing-masing hormon mempunyai reseptor  tertentu / spesifik  dan  letaknya tidak merata pada semua organ , tapi hanya pada organ tertentu tempat suatu jenis hormon bekerja menjalankan fungsinya. Jadi , fungsi reseptor  adalah membedakan hormon dan lainnya dan mengatur sinyal hormonal menjadi respon seluler yang tepat. Adapun lokasi reseptor pada sel yaitu : pada membran sel (hormon protein), Sitoplasma (hormon steroid), dan Inti sel (hormon tiroid).

 

Mekanisme  Kerja

Mekanisme  kerja hormon diawali dengan adanya ikatan hormon dengan reseptornya masing-masing, sehingga menyebabkan Perubahan permeabilitas   membran sel dan mengaktifkan enzim intraselluler serta  secong Messenger( pembawa pesan kedua seperti : cAMP , IP3, DAG, ion Ca dan tirosin-kinase)  yang menyebabkan terjadinya aktivasi genetik ( DNA) untuk  membentuk mRNA ( transkripsi )
 
Kemudian mRNA akan keluar menuju ribosom untuk membentuk protein fisiologis  ( translasi )  yang akan digunakan sesuai dengan sifat kerja dari masing-masing hormon seperti :  metabolisme, reproduksi,  tumbuh-kembang dan homeostasis

Metabolisme Hormon  :

  • Terutama pada Hati dan Ginjal
  • Diekskresi: urin dan Feses.

Kelainan Gangguan Reseptor

  • Desensitisasi : adalah suatu keadaan dimana sifat responsif reseptor berkurang akibat stimulasi oleh hormone dalam jangka waktu yang lama. Seperti :

  1. Down-regulation homolog ; adalah proses berkurangnya jumlah reseptor untuk suatu hormone akibat peningkatan konsentrasi hormone tersebut . seperti : pada  DM Type II yang obeisitas, dimana terjadi hiperinsulinemia dalam jangka waktu yang panjang akan menurunkan jumlah dan sensitifitas reseptor insulin, sehingga insulin tidak dapat terikat dan bekerja pada sel . Dengan demikian uptake glukosa oleh sel tidak dapat terjadi , dan akan menimbulkan hiperglikemia dan terjadilah ( Diabetes Melitus) DM.
  2. Down-regulation heterolog ;  proses berkurangnya jumlah reseptor untuk  suatu hormon akibat peningkatan konsentrasi hormone lain . Hal ini terjadi jika sel target di inkubasi dengan suatu agonis sehingga sifat resonsif sel terhadap agonis lain berkurang

Hormon Hipothalamus dan Hipophyse

           Hipothalamus dan kelenjar hipofise / pituitary membentuk satu kesatuan unit yang mengatur fungsi dari beberapa kelenjar endokrin  ; kelenjar tiroid, adrenal, gonad dan berbagai aktifitas fisiologis lainnya. Kesatuan unit fungsional antara hipothlamus dan hipofise ini sering disebut dengan istilah neuroendokrinologi yang merupakan cabang ilmu yang mempelajari interaksi otak dan system endokrin.

           Kedua system ini berinteraksi satu sama lainnya , dimana sekresi kelenjar hipofise secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh sekresi  hipothalamus ( release atau inhibit ) dan begitupula hormone yang dihasilkan oleh kelenjar hipofise akan mempengaruhi sekresi hormone hypothalamus.

Hormon  Hipothalamus

  1. Corticotropin Releasing Hormon (CRH)
  2. Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH)
  3. Thyrotropin Releasing Hormon (TRH) 
  4. Growth Hormon Inhibiting Hormon (GHIH)
  5. Prolactin Releasing Factor (PRF)
  6. Prolactin Inhibitory Factor (PIF)
  7. MSH Releasing Factor (MSH-RF)
  8. MSH Inhibiting Factor (MSH-IF)
  9. Vasopresin ( ADH )
  10. Oxitosin     

Hormon Hipofise  Anterior

  • Growth Hormon (GH)
  • Adrenocorticotropin Hormon (ACTH)
  • Thyroid Stimulating Hormon (TSH)
  • Follicle Stimulating Hormon (FSH)
  • Luteinizing Hormon (LH)
  • Prolactin 

Hipofise  Posterior

Hipopyse posterior secara fisiologis tidak menghasilkan hormone, tapi sebagai tempat menyimpan hormone ADH dan oksitosin yang dihasilkan oleh Hipothalamus.

Kelenjar Tiroid

Kelenjar Tiroid mempunyai keunikan dibandingkan kelenjar endokrin lain karena :

  1. Kelenjar Tiroid mempunyai kemampuan untuk menyimpan hormone Tiroid dalam jumlah besar  sekitar 2-3 minggu.
  2. Untuk sintesa hormone tiroid dibutuhkan iodium.
Hormon Tiroid (T3 dan T4 ) memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan , serta proses metabolisme pada hampir semua jaringan dan organ di dalam tubuh. Selain itu, kelenjar Tiroid menghasilkan hormone kalsitonin  yang bberperan penting pertumbuhan tulang anak. Seperti halnya kelenjar gonad , fungsi kelenjar Tiroid dipengaruhi oleh Hipothalamus dan Hipofise anterior , serta mempunyai kemampuan autoregulasi .

Kelenjar Tiroid menghasilkan hormon Tiroksin (T4) , Triiodotyronin (T3) dan kalsitonin . dimana , Sekresi tiroksin (T4) 90 %  dan sekresi triiodotironin           (T3) 10 % . akan tetapi diperifer T4 diubah menjadi T3 dan T3 empat kali lebih poten ( lebih kuat daya kerjanya ) dibandingkan  T4.

Folike atau acini yang berisi koloid merupakan unit fungsional dari kelenjar Tiroid, dimana terdapat pada follikel-follikel tiroid berisi glikoprotein (thyroglobulin). Koloid mampu mampun menyimpan bahan untuk sintesa hormone Tiroid yang cukup untuk 100 hari.

Sumber  Iodium

Sumber iodium utama terdapat dalam diet ( hasil laut, garam iodium, air). Selain dari diet , sumber iodium berasal dari proses Deiodinisasi ( pembentukan iodium baru ) dari jaringan perifer dan pelepasan iuodium anorganik oleh kelenjar Tiroid. Kebutuhan minimal iodium dalah 75 g/hari.

Sintesa H. tiroid

  1. Iodide trapping / iodide pump. Merupakan proses  pemompaan iodium anorganik masuk kedalam folikel kelenjar Tiroid. Proses ini dipicu oleh TSH dan dihambat oleh  perklorat, tiosianat dan sianida.
  2. Oksidase.  Merupakan proses  perubahan Iodide organik menjadi iodine oleh enzim tiroid peroksidase . Pada proses ini dihambat oleh Propiltiourasil ( PTU ) dan carbamizol yang merupakan obat hipertiroid.
  3.  Organifikasi. Adalah proses pengikatan iodine yang terbentuk dengan  tyroglobulin    menjadi monoiodotyrosin   (MIT)  dan diiodotyrosin (DIT). Proses inii ditingkatkan oleh TSH .
  4. Coupling : Merupakan tahap akhir sintesa hormone Tiroid , dimana proses pelengkapan antara MIT + DIT menjadi Triodotironin (T3), dan DIT + DIT menjadi Tiroksin (T4). Proses ini membutuhkan enzim tiroid peroksidase.  Pada proses ini dihambat oleh PTU dan methimazole.

Efek Fisiologis Hormon Tiroid

  • Metabolisme ↑
  • Pertumbuhan dan perkembangan ↑
  • Efek kardiovaskuler ↑à mematikan
  • Hemopoetik ↑
  • Pernapasan ↑
  • Aktivitas saluran cerna ↑
  • SSP ↑
  • Suhu tubuh ↑              

Transport dan Metabolisme Hormon Tiroid

Dalam keadaan normal sekitar 70% T4 dan T3 terikat dengan globulin sebagai tiroid-binding globulin (TBG) , 20% T4 terikat dengan prealbumin sebagai tiroid-binding prealbumin (TBPA) dan 10% dengan albumin, serta sedikit sekali dalam keadaan bebas di dalam plasma ( 0,03 % T4 dan 0,3% T3).

Afinitas biologis T3 lebih kuat dibandingkan T4 , oleh karena lebih banyak T3 terdapat dalam bentuk bebas , disebabkan T4 lebih kuat terikat dengan protein. 

Metabolisme T4 terjadi melalui proses deiodinasi menjadi T3 yang terjadi terutama pada ginjal dan hati, dan T3 yang trebentuk akan dilepaskan ke serum. Dalam keadaan fisiologis sebagian besar T4 akan diubah menjadi T3, sehingga dapat dikatakan T4 adalah prohormon.

Keadaan yang mengurangi perubahan T4 menjadi T3 

Metabolisme ↑

Kekurangan kalori

Penyakit hati

PTU

Gluykortikoid

Propanolol

Amiodaron

Penyakit sistemik berat.


KELENJAR  PANKREAS

Sebagai organ , pankreas memiliki dua fungsi yang penting, yaitu fungsi eksokrin (fungsi pencernaan melalui sekresi enzim-enzim pencernaan ) dan fungsi endokrin untuk metabolisme karbohidrat , lemak dan protein.
Pada Gambar tersebut diatas , secara histologis dapat dilihat bahwa terdapat dua kelompok sel yang menyusun pancreas, yaitu kelompok sel-sel eksokrin (pancreatic acini) yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan , dan kelompok sel-sel endokrin ( pancreatic islet of Langerhans) yang terdiri dari : 
  • Sel A   (20 %)  yang menghasilkan hormon   glukagon , 
  • Sel B   (80 %)  menghasilkan  hormon  insulin ,    
  • Sel D  (3-5%)  menghasilkan  hormon  somatostatin,
  • Sel F  menghasilkan  hormon  pancreatic polipeptida.

Insulin 

Insulin pertama kali diisolasi dari pancreas pada tahun 1922 oleh Banting & Best . Insulin merupakan hormon protein yang disusun oleh polipeptida dengan BM 5850 dan  2 rantai asam amino ( rantai A dan B ) yang dihubungkan oleh ikatan disulfide. Sintesa insulin oleh sel B pankreas diatur oleh gen pada kromosom 11 lengan pendek. Dimana insulin dalam sirkulasi umumnya dalam bentuk bebas dan mempunyai waktu paruh / Half life 3-5 menit. Insulin yang tidak terikat dengan reseptor insulin akan mengalami katabolisme oleh insulinase di ginjal ,  hati dan plasenta.

Sekresi Insulin

Normalnya sekresi insulin  sekitar  40-50 u/hari dengan  melalui tahapan yaitu sekitar  8 – 10  menit sesudah makan ( postfagia ) , kemudian  30 – 45 menit  mencapai  puncaknya, lalu menurun sekitar 90-120 menit  .

Stimulasi insulin

Sekresi insulin secara fisiologis dirangsang oleh peningkatan kadar  glukosa darah,  asam amino, benda keton dan asam lemak , serta juga akibat pengaruh hormon saluran cerna ( CCK, gastrin, sekretin, GIP ),   glukagon, serta pengaruh perangsangan saraf   parasimpatis. Tetapi dihambat oleh hormon somatostatin, Growth Hormon , Kortisol ,  progesteron, estrogen dan pengaruh saraf  simpatis. 

Sedangkan  sekresi insulin secara  Farmakologis  dirangsang oleh teofilin dan   sulfonilurea ( antidiabetik oral drugs / ADO ) . Tetapi dihambat oleh diazoxide ,  difenilhidantoin dan  Prostaglandin

Reseptor Insulin

Insulin bekerja dengan jalan terikat dengan reseptor Insulin yang terdapat pada membran sel target , dimana reseptor insulin merupakan Protein dengan BM 300.000 yang terdiri dari dua subunit alpha pada permukaan membran sel untuk terikatnya insulin  ( alpha binding site ) dan dua subunit beta pada sitoplasma yang berfungsi menimbulkan aktifitas biologis ( regulatory site ) . Dimana reseptor insulin dibentuk oleh gen pada kromosom 19.


Reseptor Glukosa

Akibat pengaruh kerja hormone insulin, maka reseptor glukosa pda membrane sel akan menjadi aktif untuk uptake/ transport masuk glukosa ke dalam sel melalui difusi fasilitasi melalui Glukosa Transporter (GLUT) , untuk dioksidasi membentuk energik (ATP). 

Adapun reseptor glukosa pada seluruh tubuh terdiri dari :

  1. GLUT 1 à terutama pada sawar darah otak
  2. GLUT 2 à sel B pangkreas
  3. GLUT 3 à terutama pada sel saraf
  4. GLUT 4 à sel otot rangka , jaringan  lemak.
  5. GLUT 5 à Sel usus halus.

Efek Insulin Pada  Sel

  • (dalam detik) sel menjadi permeabel terhadap glukosa, asam amino, K+, dan PO4-.
  • (dalam menit) aktivasi enzim intraselluler.
  • (dalam jam-hari) translasi RNA messenger untuk pembentukan                  protein fisiologis .


Efek insulin Terhadap Karbohidrat

  • Meningkatkan pemasukan glukosa.
  • Meningkatkan glikogenesis ( pembentukan glikogen terutama  dihati )
  • Menghambat glikogenolisis ( pemecahan glikogen terutama  dihati )

Efek  Insulin Terhadap lemak

  • Meningkatkan pemasukan glukosa menjadi trigleserida,
  • Mencegah hidrolisis trigleserida menjadi glukosa.

Efek  Insulin Terhadap protein

  • Meningkatkan pengangkutan asam amino ke dalam sel,
  • Meningkatkan translasi RNA messengger untuk menghasilkan protein,
  • Menghambat katabolisme ( pemecahan ) protein,
  • Menekan glukoneogenesis ( pembentukan glukosa baru di hati ).

Efek  Hormon Terhadap Glukagon

  • Meningkatkan glikogenolisis di hati
  • Meningkatkan glukoneogenesis di hati
  • Mengaktifkan lipase sel lemak.

Efek Hormon Terhadap Somatostatin

  • Menekan sekresi insulin dan glukagon.
  • Menurunkan gerakan lambung, duodenum dan kandung empedu.


KELENJAR ADRENAL

Kelenjar adrenal walaupun beratnya 6-10 gram , tetapi mempunyai peranan yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan organisme dalam suatu lingkungan yang terus menerus berubah. Hormon Katekolamin yang dihasilkan oleh medulla adrenal  berfungsi melindungi makhluk hidup dari stress yang bersifat akut berupa mobilisasi glukosa dan asam lemak untuk membentuk energi dan mempersiapkan jantung , paru-paru dan otot untuk melakukan suatu tindakan. 

Begitupula hormon kortisol yang dihasilkan oleh korteks adrenal berfungsi melindungi makhluk hidup dari stress yang bersifat Khronik seperti kekurangan makanan , maka kortisol akan merangsang proses glukoneogenesis untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah dalam batas normal, Dan juga hormon aldosteron yang dihasilkan oleh korteks adrenal  berperan dalam mempertahankan cairan tubuh melalui retensi Natrium dan air pada ginjal.

Hormon yang dihasilkan Kelenjar Adrenal 

Korteks  ( daerah kulit / pinggir) 

  • Zona fascikulata (75%) menghasilkan hormone cortisol
  • Zona glomerulosa (15%) menghasilkan hormone aldosterone
  • Zona retikularis (10%) menghasilkan hormone androgen.

Medulla  ( daerah tengah )

Sel khromafin menghasilkan hormone katekolamin.

 Efek Hormon kortisol

Terhadap metabolisme :

Meningkatkan glukoneogenesis di hati

Mengurangi penggunaan glukosa oleh sel

Lipolisis pada jaringan  Adiposa.

Terhadap kardiovaskuler :

Meningkatkan curah jantung

Meningkatkan tonus pembuluh darah perifer.

Terhadap ginjal  :

Mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit melalui efek  

Reseptor aldosteron ( retensi air , na+ , dan hipokalemia ).

Meningkatkan GFR  melalui efek terhadap reseptor kortisol sendiri.

Terhadap  Tumbuh-Kembang :

Mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangan berbagai organ pada janin.

Kelebihan kortisol pada anak-anak dapat menghambat pertumbuhan sel tulang .

Terhadap imunologi :

Anti inflamasi

Terhadap SSP :

kelebihan ( cushing sindroma ) :  nafsu makan meningkat,  libido ,menurun, dan  insomnia.

kekurangan (addison disease  ): apatis, depresi, dan selera makan menurun.


 Efek Hormon Aldosteron

Terhadap Ginjal

Retensi / menahan ion Na+  dan eskresi ion K+ cairan ekstrasel pada   tubulus kolektivus dan  sebagian ubulus distal.

Terhadap Jantung

Peningkatan sekresi aldosteron menyebabkan kekuatan kontraksi jantung berkurang serta dapat terjadi aritmia.


Efek Hormon katekolamin

Terhadap kardiovaskuler

Frekwensi dan kekuatan jantung meningkat β1

Vasokonstriksi pemb. Darah α1

Vasodilatasi pemb. Darah otot rangka & hati  β2


Terhadap otot polos

Kontraksi uterus  α1   & relaksasi uterus β2

Relaksasi otot sal cerna & kandung kemih

Relaksasi otot trakhea

Terhadap Metabolisme

Glikogenolisis meningkat dan lipolisis

Meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi panas

Terhadap sekresi hormon lainnya

Mempengaruhi sekresi hormon prolaktin di hipofise.

Mempengaruhi sekresi renin pada sel jga ginjal.

Mempengaruhi sekresi insulin di sel b pankreas

Meningkatkan sekresi tiroksin,kalsitonin,PTH dan Gastrin reseptor beta adrenergik


Efek Hormon androgen adrenal

Terhadap anak pria 

Prekursor utama untuk hormon testoteron dan dihidrotestoteron di perifer.               

Kelebihan androgen menyebabkan pembesaran penis penis prematur dan tanda-tanda seksual sekunder dini.

Terhadap perempuan 

Menyebabkan jerawat, hirsutisme dan virilisasi

Sebagai sumber utama estrogen pada wanita menopause. 


HORMON PENGATUR MINERAL TUBUH

Mineral memegang peranan penting dalam berbagai proses fisiologis didalam tubuh . Ion kalsium memegang peranan penting dalam mengatur proses homeostasis dan mempertahankan integritas tulang. Pada tingkat sel , ion kalsium memegang peranan penting dalam :

  1. Konduksi saraf dan kontraksi otot
  2. Mengatur transmisi sinaptik dan sekresi kelenjar eksokrin
  3. Menagtur aktifitas enzim
  4. Merubah protrombin menjadi trombin pada proses pembekuan darah.

Bersama – sama dengan ion posfat , kalsium memegang peranan penting dalam proses mineralisasi tulang. Peranan ion kalsium dan posfat ini memerlukan pengaturan keseimbangan konsentrasi  ion kalsium dan posfat antara cairan intrasel dan ekstrasel dalam batas yang sangat sempit, dan hal ini dapat dicapai dengan pengaturan yang terintegrasi oleh berbagai hormon.

PTH, calsitonin, dan calsitriol (vit.D3 aktif) adalah hormon-hormon yang mengatur metabolisme mineral di dalam tubuh. Ketiga hormon ini bersama-sama mengatur masuk dan keluarnya mineral ke cairan ekstrasel melalui mekanisme kerjanya pada usus , ginjal dan tulang.   

Keseimbangan Kalsium dan Phosfat

  • Tulang adalah tempat penyimpanan mineral yang penting dalam tubuh.
  • Sumber utama kalsium ( Ca+2  )dan posfat berasal dari asupan makanan.
  • 99% cadangan Ca+2  , 90%  posfat  tubuh disimpan dalam tulang.
  • Konsentrasi ion Ca+2   harus terkontrol dengan ketat untuk menghindari gangguan pada sistem fisiologik yang penting.
  • Konsentrasi Posfat pada anak-anaka dua kali lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa.
  • Keseimbangan Ca+2 dan posfat  dalam tubuh tergantung pada aktivitas yang berlangsung pada tiga organ: tulang, ginjal, dan usus halus.
  • Homeostasis ion Ca+2   dijaga oleh suatu sistem umpan balik negatif yang melibatkan pasangan hormon dengan efek yang berlawanan, yaitu kalsitonin dan PTH.
  • Ion Ca+2   40 % berikatan dengan protein plasma, 10 % berikatan dengan sitrat , dan fosfat 50 % bebas.
  • Kadar normal Ca+2   dalam darah 9-10 mg/dl , dan kadar Posfat   normal  3-4 mg/dl .

Vitamin D3 (Calsitriol)

  • Sumber dari makanan dan mineral
  • Diaktifkan di Ginjal.
  • Kolekalsiferol → 25 hidroksikolekalsiferol → 1,25 dihidroksikolekalsiferol →protein pengikat kalsium, ATPase yang dirangsang kalsium dan fosfatase alkali → absorbsi kalsium & posfat di epitel filli usus meningkat.
Paratiroid hormone ( PTH )
  • Dihasilkan oleh Kel. Paratiroid.
  • Sekresinya dipengaruhi oleh rendahnya kadar kalsium plasma.
  • Berfungsi meningkatkan Absorbsi kalsium dan fosfat dari tulang.
  • Pada ginjal ;mengurangi eskresi kalsium ,  meningkatkan sekresi posfat.

Calsitonin

  • Dihasilkan oleh sel-sel parafolikuler Tiroid.
  • Sekresinya dipengaruhi oleh peningkatan kadar kalsium plasma.
  • Berfungsi untuk reabsorpsi ion Calsium ke dalam tulang à penting untuk anak dalam masa pertumbuhan .
  • Tidak terlalu berpengaruh pada orang dewasa.


0 Response to "Pembahasan Lengkap Tentang Anatomi & Fisiologi Sistem Endokrin Manusia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel