MENGENAL FISIOLOGI CAIRAN TUBUH

 

FISIOLOGI CAIRAN TUBUH

 

 

A. PENDAHULUAN

 

        Cairan tubuh merupakan faktor penting dalam berbagai proses fisiologis di dalam tubuh. Dapat dikatakan kemampuan kita untuk dapat bertahan hidup sangat tergantung dari cairan yang terdapat dalam tubuh kita. Oleh karena itu, terdapat berbagai mekanisme yang berfungsi untuk mengatur volume dan komposisi cairan tubuh agar tetap dalam keadaan seimbang / homeostasis dan juga didalam proses perubahan lingkungan external (adaptasi) .  Sehingga  keseimbangan internal (homeostasis) dan  Penyesuaian terhadap perubahan lingkungan sekitar (adaptasi) sangat diperlukan untuk dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah.

 
FISIOLOGI CAIRAN TUBUH

 

 Jumlah cairan tubuh total (TBW)  adalah 60% dari berat badan .TBW dipengaruhi oleh : sex, age, dan derajat obesitas.  TBW terdiri atas : CES dan CIS . dimana              CES terdiri atas :  plasma, cairan interstitiel dan cairan transeluler  TBW terdiri atas :  CIS  40%BB  dan  CES 20% BB.  CES  terdiri  atas  plasma ( bagian  nonselluler darah) sekitar  5% BB, cairan   intertitiel  ( cairan yang terdapat diantara sel, termasuk cairan limfe)  sekitar 15% BB , dan cairan transeluler ( cairan yang terdapat pada lumen  saluran pencernaan, keringat, cairan serebrospinal, intraokuler, cairan sinovial, cairan peritoneum, empedu dan cairan kokhlea) sekitar 1%  BB .  TBW pada wanita 50% BB, sedangkan  TBW   pada pria 60% BB, disebabkan oleh variasi dari jumlah jaringan lemak tubuh, yang hanya mengandung kurang dari 10% air, sedang otot skelet mengandung lebih 75% air, dan ginjal mengandung lebih dari 80% air.

                                 

B. PERTUKARAN CAIRAN TUBUH

 

a.      Pemasukan Air

Pemasukan air setiap harinya  terutama terjadi melalui oral ( minuman dan makanan), dimana  kira-kira 2/3 dari jumlah air ini masuk dalam bentuk air murni atau minuman lainnya , sedangkan sisanya masuk sebagai makanan yang dimakan .  Sebagaian kecil air dalam tubuh berasal dari proses oksidasi hidrogen di dalam makanan ; yang jumlahnya berkisar antara  150 samapi 250 ml/hari, tergantung dari kecepatan metabolisme seseorang. Jumlah cairan yang masuk, termasuk hasil sintesa di dalam tubuh berkisar 2300 ml/hari.

 

b.      Pengeluaran Air

            Pengeluaran  cairan dari tubuh dalam keadaan  normal sebagaian besar terjadi melalui urine yang  jumlahnya sekitar 1400 ml/hari. Namun dalam keadaan  tertentu, seperti pada latihan yang berat kehilangan cairan yang terbesar terjadi melalui pengeluaran keringat , dan sedikit pada tinja.

 

    

                                                    SUHU                      SUHU            LATIHAN BERAT
                                                  NORMAL                PANAS                    DAN LAMA
                                                   (ml/hari)                  (ml/hari)                       (ml/hari)

Insensible Water Loss :
-kulit                                              350                            350                               350                         
-Pernapasan                                 350                            250                               650


Non Insensible Water Loss :
-urine                                           1400                         1200                              500
-keringat                                        100                         1400                            5000
-tinja                                              100                           100                              100
 
  total                                            2300                        3300                            6600

 

                                     Tabel 2.2. Tabel pertukaran cairan tubuh

 

 

c.      Insensible Water Loss

            Insensible Water Loss  merupakan hilangnya cairan melalui proses difusi yaitu kulit dan proses evaporasi melalui saluran pernapasan . Kehilangan cairan melalui proses ini tidak dapat dirasakan mekanismenya. Kehilangan cairan melalui kulit yang rata-rata berkisar 350 ml/hari terjadi oleh karena berdifusinya molekul air melalui sel-sel kulit. Berdifusinya cairan melalui kulit dibatsi oleh adanya lapisan epithel bertanduk yang mengandung cholesterol. Pada penderita luka baker yang luas , lapisan ini mengalami kerusakan , sehingga proses difusi akan meningkat, dan kehilangan cairan akan meningkat jumlahnya, sampai dapat mencapai 3-5 liter/hari. Pada tabel dibawah ini dapat dilihat jumlah kehilangan cairan tubuh.

 

 

C. KOMPOSISI CAIRAN TUBUH

 Komposisi cairan intrasel (Cis) dan cairan ekstrasel (Ces) berbeda satu sama lainnya , yang disebabkan oleh beberapa factor : 1. Adanya Na-K ATPase (Na-K pump) pada membrane sel yang mentransport secara aktif Na+ keluar sel dan Kkedalam sel, sehingga konsentrasi Na+ lebih banyak diluar sel dan K lebih banyak di dalam sel.        2. Membran sel yang memisahkan cairan intrasel dengan cairan interstitial mempunyai permiabilitas yang terbatas terhadap fosfat organic dan protein.   Komposisi utama cairan tubuh adalah air dan elektrolit , dimana elektrolit terdiri dari Kation (muatan positif) dan anion (muatan negative).

Cairan ekstrasel mengandung banyak kation Na+ , Cl- , dan HCO3- dan bahan nutrisi untuk sel , seperti oksigen, glukosa, asam lemak, asam amino , CO2 yang ditransport dari sel menuju ke paru-paru untuk disekresi , serta berbagai hasil metabolisme dari sel yang akan dieskresi melalui ginjal. Sedangkan cairan ekstrasel mengandung sedikit kation K+, Ca+2 , Mg+2 , dan anion HPO4-2 serta SO4-2

Perbedaan anatar jumlah kation utama plasma Na+ dan  K+ , serta anion Cl- dan HCO3- disebut sebagai anion gap , yang merupakan perbedaan antara kation dan anion yang dapat diukur . Sekitar 2/3 dari ion yang tidak dapat diukur adalah berasal dari protein plasma , sisanya adalah fosfat dan sulfat. Normalnya , anion gap yang dapat dihitung adalah          8 mEq/L sampai 16 mEq/L. Nilai diatas 30 mEq/L biasanya berasal dari asam organik seperti asam laktat atau berasal dari anion inorganik seperti sulfat dan fosfat pada keadaan uremic acidosis.  Komposisi cairan tubuh  dapat dilihat pada tabel dan diagram dibawah ini :

KOMPOSISI           Plasma                 Intersterstitel                Intrasel
                                   (meq/l)                    ( meq/l)                     ( meq/l)
KATION              
Na                               143,0                        140,0                          14,0
K                                   4,2                             4,0                          140,0
Ca                                  1,8                             1,2                             <1
Mg                                 0,8                             0,7                          20,0
 
ANION
Cl                                108,0                         108,0                            4,0                  
HCO3                           24,0                           28,3                          10,0
HPO4                             2,0                             2,0                           11,0
Protein                            1,2                             0,2                            4,0

 

Tabel 2.3.   Komposisi elektrolit cairan tubuh

Komposisi antara plasma dan cairan interstitial  umumnya sama, namun terdapat perbedaan dalam konsentrasi proteinnya. Perbedaan ini disebabkan oleh karena kapler endhotel permiabel terhadap air dan bahan-bahan dengan berat molekul kecil, seperti ion-ion inorganic, glukosa  dan urea, tetapi permiabilitasnya terbatas terhadap partikel besar seperti protein dan lemak.

 

D. PERTUKARAN CAIRAN TUBUH

 

         Ada 2 proses yang terjadi pada pertukaran cairan tubuh  ;

 

 1. Proses difusi/filtrasi ; adalah perpindahan suatu zat dari daerah yang berkonsentrasi / tekanan tinggi ke kedaerah yang berkonsentrasi rendah. Seperti : difusi O2 dari kapiler ke jaringan tubuh. Pada proses difusi dipengaruhi oleh faktor-faktor sesuai dengan Hukum Starling force :

 

Filtrasi  =  K  ( Pc  -  Pi ) - ( Poc - Poi  )


        K     = Koefisien filtrasi kapiler
        Pc   = Tekanan hidrostatis kapiler
        Pi    = Tekanan hidrostatis intersitiel
        Poc = Tekanan onkotik kapiler
        Poi  = Tekanan onkotik interstitiel
  

  2. Proses osmosis : adalah perpindahan cairan pelarut dari daerah berkonsentrasi rendah ke berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel.  Seperti : Perendaman suatu sel dalam cairan yang hipertonik / konsentrasi pelarut tinggi  maka sel akan mengkerut , begitpula sebaliknya.

E. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

                    

A. Edema

      Edema berasal dari bahasa Yunani yang artinya bengkak, akibat akumulasi cairan yang berlebihan.   Pada umumnya edema terjadi pada ruang ekstrasel, terutama pada ruang interstitiel. Namun edema dapat juga terjadi  pada ruang intrasel, akibat proses peradangan pada jaringan yang memneyebabkan permiabilitas membran meningkat dan memungkinkan ion Na+ dan ion lainnya yang disertai air masuk ke dalam sel. Adapun Faktor-faktor penyebab terjadinya edema :

 

1. Meningkatnya tekanan kapiler

    A. Meningkatnya tekanan vena : gagal  jantung, obstruksi vena lokal, gagalnya pompa  vena.

    B. Retensi Na dan air   : gagal ginjal

    C. Menurunnya resistensi arteriole : demam,  paralisis saraf  simpatis, efek obat vasodilator

 

2. Menurunnya tekanan koloid plasma

     A. Kehilangan protein lewat urine : Sindroma Nefrotik

     B. Kehilangan protein lewat kulit : Luka, luka bakar

     C. Kegagalan produksi protein : peny. hati, KKP

 

3. Meningkatnya permeabilitas kapiler

      A. Reaksi imun yang menyebabkan pelepasan histamin

      B. Toksin

      C. Infeksi bakteri

      D. Defisiensi vitamin, utamanya vit.C

      E. Iskemia

      F. Luka bakar

 

4. Obstruksi saluran limfe

      A. Kanker yang menyumbat sal. Limfe

      B. Sumbatan kelenjar limfe oleh infeksi; filariasis

      C. Kelainan kongenital dari pembuluh limfe

 

F. Dehidrasi

     Dehidrasi secara klinis berarti kekurangan air dan elektrolit. Istilah dehigrasi sering disalah-gunakan dengan hipovolemia yang berarti berkurangnya cairan intravaskular. Dehidrasi dapat disebabkan oleh berbagai keadaan seperti :

 

a.       Hilangnya cairan melalui sal. cerna  

  • Muntah 
  • Peritonitis
  • diare  
  • Fistula
  • obstruksi usus

 

b.      Hilangnya cairan melalui ginjal ;

  • Insufisiensi adrenal  
  • Diabetes insipidus
  • Diuresis osmotik 
  • Diuresis berlebihan

c.       Hilangnya cairan melalui kulit dan sal. Napas;

- Keringat berlebihan   

- Keganasan paru

- Luka bakar

 

Jenis-Jenis Dehidrasi 

1. Dehidrasi isoosmotik      Diare, muntah, eksudasi plasma ,pada luka bakar                                     

2. Dehidrasi hiperosmotik    Intake air kurang, diabetes   insipidus, demam, evaporasi  kulit berlebihan

3. Dehidrasi hipoosmotik    Hilangnya NaCl pada insufisiensi  adrenal

Pengetahuan tentang penyebab dan jenis – jenis dehidrase penting , agar penatalaksanaan dan pemberian cairan melalui intravenous secara tepat, seperti jenis dehidrasi hipoosmotik diberikan cairan yang hipertonik ( Albumin, dextran Glukosa 10% dan 40%), dehirasi hiperosmotik diberikan cairan hipotonik ( Nacl 0,5%, Glukosa 0.25%), dan dehidrasi isoosmotik dengan cairan isotonik ( Ringer Laktat, NaCl 0.9%, Glukosa 5%).

0 Response to "MENGENAL FISIOLOGI CAIRAN TUBUH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel