ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SARAF MANUSIA

 

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SARAF

 

A. PENDAHULUAN

 

Susunan saraf  merupakan sistim yang berfungsi untuk mengatur berbagai fungsi organ di dalam tubuh secara terintegrasi sehingga memungkinkan makhluk hidup dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan disekitarnya . Sususan saraf menerima berbagai informasi dari dalam dan dari luar tubuh, dan mengkoordinasi semua aktifitas organ di dalam tubuh, sehingga memegang peranan dalam tingkah laku subjektif suatu makhluk hidup.

 Untuk menjalankan fungsi yang begitu bervariasi, susunan saraf pada manusia terdiri sekitar 1 trilliun sel saraf (neuron) yang berfungsi untuk menerima, menyimpan dan menyebarkan impuls listrik, serta neuroglia (sel satelit) yang tidak berfungsi untuk menghantarkan impuls listrik. Jumlah neuroglia berkisar 10-15 kali jumlah neuron. Neuron merupakan unit fungsional susunan saraf yang mempunyai bentuk, susunan kimiawi, fisiologi dan karakteristik farmakologi dan imunologi yang bervariasi .

Neuroglia terdiri dari : oligodendrosit, astrosit, dan mikroglia pada otak, serta sel Schwann pada saraf perifer/ tepi. Adapun fungsi neuroglia adalah sebagai struktur penunjang fisik otak, fungsi perbaikan dan regenerasi, menghasilkan faktor pertumbuhan sel saraf (nerve growth faktor) oleh astrosit, mensekresikan neurotransmitter GABA dan asetilkholin, fungsi nutrisi  sel saraf , penyanggah ion K dalam sel saraf oleh astrosit, dan membentuk sawar darah otak dalam mencegah pecahnya pembuluh darah otak bila terjadi peningkatan tekanan darah yang mendadak oleh juluran astrosit pada pembuluh darah otak.

 Susunan saraf merupakan struktur yang mampu menyusun dan mengatur dirinya sendiri (self-organizing dan self-regulating). Sifat unik neuron ini sebagian merupakan ekspresi yang unik dari gen, dan sebagian lagi akibat perkembangan dan pengalaman individu dari setiap makhluk hidup.

 

      Beberapa istilah :

Informasi         : Adalah segala sesuatu yang mempunyai  arti  seperti pengetahuan,  fakta-fakta,

                            nilai-nilai  kuantitatif,  intensitas sakit, cahaya, temperatur dan sebagainya.

Impuls             : Adalah informasi yan telah diubah menjadi  bentuk  yang dapat dihantarkan melalui

                            sistim saraf

Sinyal                          : Adalah  suatu pola  dari  seluruh  impuls-impuls  yang dihantarkan oleh seluruh

                            serabut saraf. Misalnya sinyal  motorik, sinyal visual dan sebagainya.

 

Gambar 4.1. Sel Saraf

 

 

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SARAF












Soma      Dendrit        Akson Hillock                               Myelin        bongkol sinaptik

Neuron mempunyai struktur dan ukuran yang bervariasi, namun memiliki struktur umum yang sama, yaitu  badan sel (soma) dan  penjuluran sitoplasma yang disebut neurit,  terdiri dari akson dan dendrit.

            Dendrit  yang menjulur masuk ke badan sel berfungsi untuk menghantar impuls listrik ke badan sel, sedangkan akson yang menjulur keluar dari badan sel melalui akson hillock berfungsi untuk menghantar impuls yang berasal dari badan sel . Pada bagian ujung akson akan bercabang-cabang dan berakhir pada bongkol sinaptik (synaptic knobs atau terminal buttons) yang mengandung granula atau vesikel yang berisi neurotransmitter.

          Akson diselubungi oleh selubung myelin yang berfungsi untuk mempercepat penghantaran impuls, oleh karena mempunyai resistensi listrik yang tinggi (isolator), dimana hanya pada nodus of Ranvier aktifitas listrik membran dapat terjadi mengakibatkan proses depolarisasi (konduksi impuls) meloncat dari satu nodus Ranvier ke nodus lainnya (Konduksi Saltotoris).Dimana Konduksi Saltotoris mempunyai beberapa keuntungan : 1.Kecepatan penghantaran impuls meningkat, 2. lebih hemat energi oleh karena depolarisasi hanya terjadi pada nodus Ranvier saja. Selubung myelin pada susunan saraf pusat (SSP) dibentuk oleh oligidendrosit, yang merupakan bagian neuroglia, sedangkan pada susunan saraf  tepi (SST)  dibentuk dari sel Schwann.

 

B. ORGANISASI SISTEM SARAF

1.       Pembagian menurut lokasi : 

a.       Sistem saraf pusat   (SSP)

b.       Sistem saraf perifer (SST)

2.       Pembagian menurut arah informasi (infomation pathway) : 

a.       Afferent divisions (Centripetal) / Sensoris

b.       Efferent divisions (Centrifugal) /  Motoris

3.       Pembagian menurut tipe organ yg dipersarafi :

a.       Sistem saraf somatik

b.       Sistem saraf otonom

 

1. SISTEM SARAF PUSAT (SSP)

 

·         Merupakan pusat struktural dan fungsional dari seluruh sistem saraf.

·         Terdiri dari otak dan medula spinalis.

·         Mengintegrasikan dan mengevaluasi seluruh informasi dan menginisiasi keluarnya respon.

 

     Tingkatan sistem saraf Pusat

     1. Tingkat medulla spinalis

Seluruh  respons  motoris medula spinalis bersifat otomatis  dan segera,  dan respons  ini  terjadi menurut  pola yang  disebut refleks.

     2. Tingkat otak bagian bawah

Bagian ini termasuk medulla oblongata, pons, mesenchepalon,  hipothalamus, Thalamus, ganglia basalis, dan cerebellum.

     3. Tingkat kortikal

Korteks   serebri   merupakan   tempat   penyimpanan informasi. Salah  satu fungsi yang penting dari korteks adalah proses   berfikir.

             


 

Gambar 4.1. Susunan Saraf Pusat

      

2. SISTEM SARAF PERIFER

 

      Saraf-saraf yang terletak di luar regio Sistem Saraf Pusat (CNS):

·         Cranial nerves  à berasal dari batang  otak

·         Spinal nerves   à  berasal dari medula  spinalis


 

 

3. SISTEM SARAF OTONOM (SSO)

 

·          Merupakan sistem saraf yang bekerja diluar kesadaran dan bersifat otomatis ( Reflex ).

·         Efferent division à membawa informasi ke efektor otonom atau viseral   (otot polos dan otot jantung, dan kelenjar) terdiri dari :    

1.       sympathetic division; mempersiapkan tubuh untuk mengatasi mendadak  lingkungan internal àfight or flight response

2.       parasympathetic division; mengkoordinasi aktifitas normal (istirahat) tubuh à rest-and-repair division.

·         Visceral sensory (afferent) divisons à membawa informasi balik ke pusat integrasi otonom di SSP.

·         SSO berpusat pada Medulla spinalis, Batang otak dan Hipothalamus.

 



4. SERABUT SARAF

          Merupakan  tonjolan  akson yang  sebagian  diselubungi  oleh mielin   dan sebagian kecil tidak ditutupi oleh selubung  mielin. Serabut  saraf berfungsi untuk menghantar impuls ke susunan  saraf pusat atau sebaliknya. Serabut saraf  yang  besar  terutama berfungsi  untuk  menghantar  impuls motoris   dan sensasi proprioseptif, sedang serabut  saraf  kecil terutama berfungsi  untuk sensasi suhu dan  nyeri  serta  fungsi otonom.

 

 Klasifikasi serabut saraf menurut Erlanger dan Gasser

Jenis Serabut

Fungsi

Diameter

(um)

Kecepatan

(m/det)

 

A a

 

 

A b

 

A g

 

A d

 

B

 

C

 

Prioprioseptif

Motorik somatik

 

Raba dan tekan

 

Muscle spindle

 

Nyeri, dingin, raba

 

Otonom Preganglion

 

Nyeri, suhu, refleks

 

12 - 20

 

 

5 - 12

 

3 - 6

 

2 - 5

 

< 3

 

0,4 - 0,2

 

70 -120

 

 

30 - 70

 

5 - 30

 

12 - 30

 

3 - 15

 

0,5 - 2

 

 

Klasifikasi menurut neuron sensoris

Klasifikasi

Asal

Jenis serabut

 

Ia

 

Ib

 

II

 

 

III

 

IV

 

 

Muscle Spindle

 

Organ Tendo Golgi

 

Muscle Spidle, Raba,

Tekan, Rasa

 

Nyeri, Suhu Dingin, Raba

 

Nyeri, Suhu

 

A alva

 

A alva

 

A Beta

 

 

A delta

 

C

 

 

5. AKSI POTENSIAL

Aksi potensial pada sel saraf meliputi : 1. Fase istirahat ( keadaan sebelum aksi potensial terjadi, dimana membran sel dalam keadaan polarisasi oleh karena membran potensial adalah negatif ), 2. Fase depolarisasi ( bertambah positifnya muatan listrik intrasel bertambah positif akibat masuknya ion Natrium akibat adanya stimulus ) yang mengawali pembentukan aksi potensial ,              3. Fase Repolarisasi  ( semakin negatifnya muatan listrik intrasel akibat keluarnya ion Kalium intrasel ).

 

 

6. TRANSMISI SINAPTIK

          Komunikasi antara satu neuron dengan neuron lainnya  atau dengan otot dan kelenjar  melalui proses transmisi sinaptik.  Pada transmisi sinaptik  terjadi  sinaps ( hubungan ) dimana akson dari suatu neuron sel presinaps akan berhubungan dengan dendrit, akson, atau badan sel neuron postsinaps. Terdapat dua jenis transmisi sinaptik  :

1. Transmisi sinaptik elektrik

2. Transmisi sinaptik kimiawi

 

1.       Transmisi sinaptik elektrik

  Pada sinaps elektris, aksi potensial pada sel presinaps yang berjalan sepanjang akson akan disebarkan langsung ke neuron atau sel lainnya melalui protein tubular yang disebut gap junction (saluran penghubung satu sel dengan sel lainnya dengan resistensi yang rendah, sehingga ion akan lewat dengan mudah ke neuron lainnya ) yang berlangsung cepat (tidak ada delay) dan Transmisinya bersifat bidireksional ( bolak-balik ).



2. Transmisi sinaptik kimiawi

   Sebagian besar transmisi sinaptik terjadi melalui sinaps khemis , dimana impuls pada neuron presinaps menyebabkan pelepasan neurotransmitter yang akan berdifusi melalui celah sinaptik (synaptic cleft) ke sel target atau sel postsinaps , neurotransmitter akan terikat dengan reseptor spesifik yang terdapat pada permukaan membran dan menimbulkan respon berupa potensial aksii          ( pada neuron) , kontraksi ( pada otot ) , dan sekresi ( pada kelenjar). Pada transmisi sinaps ini bersifat transmisi unidireksional dan terdapat delay (perlambatan) . Delay ini disebabkan oleh : melambatnya impuls sewaktu mencapai bagian ujung presinaptik yang tidak bermielin, waktu yang dibutuhkan untuk pelepasan neurotransmitter dan untuk mempengaruhi membran postsinaptik untuk menimbulkan potensial postsinaptik,  serta waktu utilisasi dari bagian saraf dimana impuls dimulai.



Faktor – faktor yang menentukan kecepatan propagasi adalah :

1.       diameter serabut saraf

2.       karakteristik membran sel saraf

3.       suhu

4.       intervensi farmakologis

5.       ada tidaknya mielin 

 

Lintasan kerja Sistim saraf secara umum  terdiri dari :

1.       Reseptor sensoris( Sistem saraf  Sensoris / Afferen )

2.       Informasi : melewati serabut aferent dan eferent menuju SSP untuk diolah dan selanjutnya respon yang diputuskan dihantar lewat saraf motorik .

3.       Efektor ke target organ ( Sistem saraf Motorik / Efferen)

  

 

7. SISTEM SENSORIS

Sistem saraf sensorik merupakan sistem saraf yang membawa informasi dari ‘luar’ menuju sel saraf Pusat (SSP) yaitu medulla spinalis, substansi retikularis medulla oblongata, pons dan mesencephalon,serebellum,ganglia basalis , korteks sensoris dan korteks motoris , yang kemudian  informasi tersebut akan diolah di SSP dan selanjutnya respon yang diputuskan dihantar lewat saraf motorik.

 

Reseptor Sensoris

 

Reseptor Sensoris merupakan struktur khusus yang dapat dirangsang oleh  perubahan-perubahan lingkungan dan juga  oleh perubahan dalam tubuh, dimana rangsangan tersebut harus adekuat (cukup) . Dimana pada Reseptor sensoris mampu mengubah berbagai jenis energi menjadi  impuls saraf (listrik) yang berjalan melalui serabut-serabut aferent sensoris ke susunan  saraf pusat (SSP). Adapun jenis-jenis reseptor sensoris:

1.      Mekanoreseptor ð stimulus mekanik.

2.      Termoreseptor ð perub. Suhu.(panas dan dingin).

3.      Nosiseptor (R.nyeri)  ð kerusakan  pada  jaringan akibat stimulus fisik / kimia.

4.      Elektromagnetik reseptor ð cahaya yg masuk ke mata.

5.      Khemoreseptor ð  rasa pada  lidah,  bau pada  mukosa hidung,  konsentrasi

      oksigen dsb.

 

        Jalur informasi sensorik ke SSP :

1.       Dorsal columna lemniscal system : sensasi raba lokalisasi jelas & cepat, posisi, vibrasi, dan tekanan.

2.       Antero lateral system  : sensasi nyeri, sensasi suhu, sensasi gatal/geli, raba kasar, seksual.

.

 

      Sensasi  Somestetik

 

     Somestesia adalah kesadaran akan rasa raba, nyeri , temperature, tekanan , dan vibrasi.  Informasi dimulai pada reseptor sensoris an mencapi Cortex Cerebri setelah melalui beberapa “stasiun relay”. Salah satu stasiun relay yang penting adalah Thalamus . Hubungan anatara Thalamus dan Cortex Cerebri disebut proyeksi Thalamokortikal.

 

      Sensasi (rasa ) somestetik terdiri atas :

1.        Mekanoreseptik ( Mechanoreceptive somatic sense): dirangsang oleh perubahan - perubahan mekanis dari jaringan tubuh seperti : :                  taktil  (raba,tekanan,vibrasi,  dan geli)  dan posisi .

2.       Termoreseptik (Thermoreceptif sense) : mendeteksi  panas dan dingin.

3.        Nyeri  (Pain sense) : diaktifasi oleh beberapa faktor yang merusak jaringan tubuh.           

 

8. SISTIM MOTORIK

       Fungsi motoris berfungsi membawa impuls hasil pengolahan informasi pada SSP ke organ target / efektor. Adapun pengaturan aktifitas tubuh  dicapai dengan mengontrol efektor :

            1. Kontraksi otot skelet

            2. Kontraksi otot halus

            3. Sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin

       Otot skelet dikontrol oleh berbagai tingkat dari sistim saraf pusat yaitu medulla spinalis, substansi retikularis medulla oblongata, pons dan mesencephalon,serebellum,ganglia basalis  dan korteks motoris. Daerah pada sistim saraf  pusat  bagian  bawah mengatur   respons  tubuh  yang  bersifat  otomatis  dan  segera   terhadap  rangsang sensoris, sedang bagian yang  tinggi    mengatur gerakan-gerakan yang dikontrol oleh proses berfikir dari  serebrum.

                        

                         

 

 

a.      CORTEX CEREBRI

 

         Merupakan pusat kesadaran , dimana bersama serebellum dan ganglia basalis mengontrol gerakan motorik tubuh yang kompleks.Pada dasarnya semua gerakan volunter melibatkan korteks baik langsung maupun tidak, tetapi kontrolnya tetap diatur oleh batang otak, serebellum, dan ganglia basalis.

 

      Korteks motoris

·         Letaknya di bagian anterior sulcus sentralis

·         Terdiri atas : primary motor cortex, premotor area, supplemental motor area, dan area motorik khusus

 

      Primary motor cortex

·         Mulai dari fissura Slylvii ke posterosuperior dan masuk ke fiss longitudinalis

·         Area 4 Broadmann

·         Lebih dari 50% daerah ini mengontrol tangan dan otot bicara

·         Berbagai otot mempunyai daerah tertentu dengan luas yang sesuai fungsi dan penggunaannya.

 

   Premotor area

·         Sebelah anterior kortex motoris primer, turun ke fissura Sylvii lalu ke fiss longitudinalis.

·         Area 6 Brodmann.

·         Mengatur pola gerakan & posisi tubuh.

·         Merencanakan, koordinasi gerakan kompleks bersama ganglia basalis, thalamus, dan korteks motorik primer.

 

      Supplement motor area

·         Anterosuperior premotor area, terutama pada fissura longitudinalis.

·         Untuk gerakan bilateral simultan, rotasi tangan, gerakan mata, bicara, menguap.

·         Mengatur gerakan fiksasi bgn tubuh, posisi kepala, dan mata.

 

 Area motorik khusus

·         Area broca.

·         Daerah pergerakan mata volunter à di atas area broca.

·         Area rotasi kepala.

·         Area keterampilan tangan.

 

Transmisi signal motoris dari korteks ke otot

·         Secara langsung lewat traktus kortikospinalis ( traktus pyramidalis ).

·         Secara tidak langsung lewat ganglia basalis, serebellum, dan nukleus-nukleus di batang otak  (traktus Extrapyramidalis ).

        

  

Daerah Assosiasi

·         Daerah pada korteks motoris yang tidak termasuk ke dalam daerah motorik maupun sensorik ð Daerah Asosiasi.

·         Menerima impuls yang telah dianalisa dari berbagai daerah korteks dan subkorteks.

·         3 daerah asosiasi yang penting :

1)       Daerah asosiasi perieto-occipitotemporalis à IQ

2)       Daerah asosiasi pre frontalis

3)       Daerah asosiasi limbic

 

    Daerah asosiasi parieto-occipitotemporalis

·         Diantara sebelah anterior korteks sensoris, sebelah posterior korteks visualis dan sebelah lateral korteks auditoris.

·         Mempunyai sub area yg bersifat fungsional yaitu :

1)       Daerah yang menganalisa koordinat ruang dari tubuh dan sekitarnya.

2)       Daerah yang mengatur pusat pemahaman bahasa (daerah Wernicke’s).

3)       Daerah proses visual sekunder.

4)       Daerah yang berfungsi memberi nama suatu obyek.

 

     Daerah asosiasi prefrontalis

·         Berhubungan erat dgn korteks motoris untuk merencanakan gerakan kompleks.

·         Berperan utk proses berpikir yg terperinci dan mendalam.

·         Daerah khusus yg berfungsi untuk pembentukan kata ð Area Broca ð berhubungan erat dgn Area Wernicke’s.

 

     Daerah Asosiasi Limbik

·         Terdapat pada daerah kutub anterior lobus temporalis, bagian ventrall lobus frontalis dan pada girus singulatus permukaan hemisferium serebri.

·         Berperan dalam mengatur tingkah laku (behaviour), emosi dan motivasi.

 

Hemisfer Dominan

·         Sebagian besar manusia, sisi tubuh bagian kanan bergerak lebih tangkas dan terampil daripada sisi kiri.

·         Daerah Wernicke dan daerah yang mengatur fungsi pembicaraan dan motorik, biasanya berkembang lebih baik pada salah satu hemisfer.

·         Daerah hemisfer yang berkembang lebih baik disebut Hemisfer dominan.

·         95 % manusia hemisfer dominan adalah hemisfer kiri.

         Daerah hemisfer yang non dominan kemampuan interpretatif lainnya   (selain fungsi bahasa, juga berkembang dengan baik) interpretasi musik, bahasa tubuh, dan pengenalan intonasi suara dan mungkin juga beberapa pengalaman somatik yang berhubungan dengan penggunaan anggota gerak dan tangan.

 

     b. GANGLIA BASALIS

·         Anatomi : putamen, globus pallidus, nukleus kaudatus

·         Faal : nukleus subthalamikus dan substansia nigra

·         Terlibat dalam gerakan kompleks seperti menulis, memaku, menggunting, melempar bola (drible), skill movement à sirkuit putamen.

·         Kognitif movement à sirkuit kaudatus

·         Menentukan waktu dan intensitas gerakan .

    

     Neurotransmitter ganglia basalis

·         Dopamine : dari subst nigra ke putamen & nukleus kaudatus.

·         GABA : dari nukl kaudatus & putamen ke subt nigra dan globus pallidus.

·         Asetilkolin : dari korteks ke putamen & nukleus kaudatus.

·         Serotonin, enkephalin, norefinefrin à dihasilkan oleh batang otak.

 

      Beberapa gangguan ganglia basalis

·         Parkinson : dopamin kurang dihasilkan oleh substansia nigra.

·         Huntington’s chorea : GABA kurang dihasilkan oleh nukl kaudatus & putamen

·         Athetosis : gangguan pada nukleus thalamikus ( nukl lentikularis)

·         Hemiballismus : nukleus subthalamikus

 

     3.  BATANG OTAK

·         Terdiri atas medulla oblongata, pons dan mesencephalon.

·         Mengandung nukleus motorik dan sensorik untuk wajah dan leher.

·         Merupakan alat otak bagian atas untuk mengontrol fungsi-fungsi tertentu.

·         Kontrol respirasi, CV, TGI, keseimbangan gerakan mata, gerakan stereotype.

     

      Nukleus retikularis

·         Pontine reticular nuclei (FSF) à stimulasi otot ekstensor à trak retikulospinalis medialis. Secara alamiah menyebabkan eksitabel

·         Medullar reticular nuclei (FSI)à inhibisi otot ekstensor à traktus retikulospinalis lateralis 

 

       Nukleus vestibularis

·         Melalui traktus vestibulospinalis lateralis & medialis akan merangsang pontine reticular nuclei

·         Eksitasi otot ekstensor yang berhubungan dengan keseimbangan

 

     FUNGSI CEREBELLUM

      Cerebellum bersama cortex cerebri dan ganglia basalis  berperan             didalam proses  pengaturan pergerakan motorik.

      Membandingkan penampilan motoris perifer dengan sinyal motoris yg turun dari korteks motoris.

      Mengatur transmisi sinyal dari berbagai pusat diotak menuju m.spinalis.

      Mengatur secara kontinu : mekanika ekstremitas, aktifitas refleks dan stabilitas gerakan dinamis .

 

Gangguan – gangguan fungsi cerebellum:

      Gangguan keseimbangan

      Gangguan sikap dan gaya berjalan

      Gangguan tonus otot

      Gangguan refleks spinal

      Gangguan koordinasi gerakan otot

0 Response to "ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SARAF MANUSIA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel